Selamat datang daripada Ibnu Batutta Travel

Ibnu Batutta Travel adalah sebuah syarikat yang menyediakan pelbagai perkhidmatan seperti pengurusan tiket, Umrah dan ziarah, Percutian ke Jordan, Mesir, Turki, Palestin dan lain-lain destinasi yang menarik.

Perkhidmatan Pengurusan Tiket Penerbangan

Pihak Ibnu Batutta Travel menyediakan perkhidmatan pengurusan dan tempahan tiket ke seluruh destinasi dengan harga yang berpatutan.

Umrah dan ziarah bersama Ibnu Batutta Travel

firman Allah Taala: Dan sempurnakanlah ibadat Haji dan Umrah kerana Allah (Al-Baqarah 196).

Pakej Kembara Jordan

Menyediakan perkhidmatan pelancongan ke seluruh tempat menarik dan bersejarah di sekitar Jordan.

Tawaran harga Tiket Terendah Untuk Pulang ke Malaysia

Kami telah membuka tempahan untuk semua Mahasiswa/wi yang menuntut di Jordan untuk pulang ke Malaysia bersama kami dengan harga yang istimewa. maklumat lanjut sila lihat pada paparan yang berkaitan..

Memaparkan catatan dengan label SEJARAH. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label SEJARAH. Papar semua catatan

Sabtu, 28 Januari 2012

Pertempuran Mu'tah



Pertempuran Mu'tah (bahasa Arab: معركة مؤتة , غزوة مؤتة) terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah), dekat kampung yang bernama Mu'tah, di sebelah timur Sungai Jordan dan Al Karak, antara pasukan Khulafa' Rasyidin yang dikirim oleh Nabi Muhammad dan tentara Romawi Timur(Bashra).

Latar belakang

Setelah Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, Rasullulah mengirimkan surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yg bersempadanan dengan jazirah arab, termasuk kepada Heraklius. Pada Tahun 7 hijriah atau 628 M, Rasulullah menugaskan al-Harits bin ‘Umair untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gabenor Syam (Iraq) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh pemerintahan Romawi. Dalam Perjalanan, di daerah sekitar Mut'ah, al-Harits bin ‘Umair ditahan dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah (Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya). Dan Pada tahun yg sama Utusan Rasulullah pada Bani Sulaiman dan Dhat al Talh daerah disekitar negeri Syam(Iraq) juga dibunuh oleh penguasa sekitar. Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.

Sedangkan menurut sumber-sumber Barat modern, pertempuran ini adalah upaya penaklukan yang gagal terhadap bangsa Arab di sebelah timur Sungai Jordan. Tentunya hal ini dikritik sebab tidak mampu menjelaskan secara logik latar belakang pertempuran, antara pasukan muslim yg bahkan belum mempersatukan jazirah Arab dan belum menguasai Mekah yg berani menentang kekuasaan bangsa adidaya Romawi didaerah utara yg sangat jauh dari Madinah.


Pertempuran

Sebelum pasukan Islam berangkat untuk menegakkan panji La ilaha Illallah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjukan tiga orang sahabat sekaligus memegang amanah komandan secara bergantian bila komandan sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan hingga mengakibatkan tidak dapat meneruskan kepemimpinan. Sebuah keputusan yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Mereka itu adalahJa'far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah (berasal dari kaum muhajirin) dan seorang sahabat dari Anshar, Abdullah bin Rawahah, penyair Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Singkatnya, pasukan islam yang berjumlah 3000 orang diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar khabar yang demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah.

‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang para sahabat radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya , “Demi Allah, sesungguhnya perkataan yang kalian tidak sukai ini adalah perkataan yang kamu keluar mencarinya, iaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita tidak berjuang kerana jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”

Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawanah berkata benar”.

Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnya tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.

Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau dipegang dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga kedua-dua tangannya. Dalam situasi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan mahupun anak panah.

Giliran ‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.

Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah ditanggalkan tidak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil mengalahkan Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.


Setelah pertempuran

Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab. secara logik, kekalahan bakal di alami oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 2:249)

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.

Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang Imam dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.

Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.



Jumaat, 27 Januari 2012

TEMPAT PEPERANGAN YARMOUK

Pertempuran Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) adalah perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua.

Pertempuran ini terjadi empat tahun setelah Nabi Muhammad meninggal pada 632. Dia dilanjutkan oleh khalifah pertama, Abu Bakar, yang mencoba membawa seluruh bangsa yang bertutur bahasa Arab di bawah kendali Muslim. Pada 633 pasukan Muslim menyerang Suriah, dan setelah berbagai penghadangan dan pertempuran kecil berhasil merebut Damaskus pada 635. Kaisar Romawi Timur Heraclius mengatur sebuah pasukan sekitar 40.000 orang setelah mengetahui lepasnya Damaskus dan Emesa. Pergerakan pasukan Romawi Timur yang besar ini, menyebabkan Muslim di bawah Khalid ibn Walid meninggalkan kota-kota, dan mundur ke selatan menuju Sungai Yarmuk, sebuah penyumbangSungai Yordan.

Sebagian pasukan Romawi Timur di bawah Theodore Sacellarius dikalahkan di luar Emesa. Muslim di bawah Khalid ibn Walid bertemu komandan Romawi Timur lainnya, Baänes di lembah Sungai Yarmuk pada akhir Juli. Baänes hanya memiliki infantri untuk melawan kavaleriringan Arab, karena Theodor telah mengambil kebanyakan kavaleri bersamanya. Setelah sebulan pertempuran kecil-kecilan, tanpa aksi yang menentukan, kedua pasukan akhirnya berkonfrontasi pada 20 Agustus.

Menurut sumber Muslim, datanglah pertolongan Allah SWT. kepada tentara Islam dengan berhembusnya angin selatan yang kuat meniup awan debu ke muka orang Kristen, kejadian ini sama persis seperti yang terjadi pada pasukan persia dalam pertempuran Qadisiyyah. Prajurit menjadi lesu di bawah panas matahari Agustus. Meskipun begitu Khalid terdorong mundur, namun meskipun jumlah pasukannya hanya setengah prajurit Romawi Timur, mereka lebih bersatu dari pada pasukan multinasional Tentara Kekaisaran yang terdiri dari orang Armenia, Slavia, Ghassanid dan juga pasukan Romawi Timur biasa.

Menurut beberapa sumber, Muslim berhasil memengaruhi unsur-unsur di pasukan Romawi Timur untuk beralih sisi, tugas ini dipermudah oleh kenyataan bahwa Kristen Arab, Ghassanid, belum dibayar selama beberap bulan dan yang Kristen Monophysitenya ditekan oleh OrtodoksRomawi Timur. Sekitar 12.000 Arag Ghassanid membelot. Kemajuan pasukan Kristen di sisi kanan, menuju kamp berisi wanita Arab dan keluarganya, akhirnya diusir dengan bantuan dari beberapa wanita Arab. Dan memperbaharui serangan-balik. Kebanyakan prajurit Baänes dikepung dan dibantai, atau digiring menuju kematiannya di sebuah jurang terjal. Sebagai hasilnya, seluruh Suriah terbuka bagi Muslim Arab. Damaskus direbut kembali oleh Muslim dalam waktu sebulan, dan Yerusalem jatuh tidak lama kemudian.

Ketika bencana ini terdengar Heraclius di Antioch, dinyatakan dia mengucapkan selamat tinggal kepada Suriah, berkata, "Selamat tinggal Suriah, provinsiku yang indah. Kau adalah seorang musuh sekarang"; dan meninggalkan Antiokia ke Konstantinopel. Heraclius mulai memusatkan pasukannya untuk mempertahankan Mesir.

Jumaat, 20 Januari 2012

Siapakah Ibnu Batutta?

Ibnu Battuta
Nama: Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Lawati Al-Tanji
Gelaran : Ibnu Battuta atau As-Sham Ad-Din
Tarikh Lahir : 24 Februari 1304 bersamaan Rejab 704 Hijrah
Tempat lahir : Bandar Tanjah, Morocco
Meninggal Dunia : Tahun 779 Hijrah bersamaan 1372 Masihi
Sumbangan: Pelopor pengembaraan yang menghasilkan buku karangan mengenai benua Asia dan Afrika berdasarkan pengalaman perjalanan sendiri

Kebesaran Kerajaan Melayu bukan sahaja diakui dan diagungkan oleh bangsa Melayu semata-mata, malah seorang pengembara dari Arab, Ibnu Battuta. Didalam kitabnya,Tuhfat al-Nazhar beliau menyebut selama mengelilingi dunia hanya ada tujuh raja yang memiliki kelebihan luar biasa, iaitu Raja Iraq yang berbudi bahasa, Raja Hindustani sangat peramah, Raja Yaman berakhlak mulia, Raja Turki gagah perkasa, Raja Rom sangat pemaaf, Raja Turkistan bersifat tolak ansur dan Raja Melayu Malik Al-Zahir (Sumatra) yang berilmu pengetahuan luas dan mendalam.

Pengembaraan Ibnu Battuta bermula ketika usianya 21 tahun. Beliau meninggalkan Tanjah pada hari Khamis, 14 Jun 1325 masihi. Pengembaraan beliau mengambil masa 38 tahun meliputi perjalanan sejauh 120,000 kilometer dan singgah di 44 negara di dua benua Afrika dan Asia. Beliau kembali semula ke Morocco semasa pemerintahan Sultan Abu 'Inan dan kisah pengembaraan beliau ditulis oleh Ibn Juza melalui bukunya Tuhfat al Anzhar fi Ghoraib al Absar wa Ajaib al Asfa. buku tersebut diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan diterbitkan dibanyak tempat.

Kisah pengembaraan Ibnu Battuta terbahagi kepada tiga pusingan. Pusingan pertama bermula dari Tangier, Afrika Utara pada 13 Jun 1325 menuju Iskandariah sebelum meneruskan pengembaraan ke Dimyath dan Kaherah. Selanjutnya Ibnu Battuta merentasi bumi Palastin menuju Damsyik dan berjalan ke Ladzikiyah, seterusnya ke Aleppo. Dalam perjalanan berkenaan, Ibnu Battuta terlihat satu kafilah sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan ibadat haji lalu beliau bergabung dengan rombongan itu. Beliau menetap di Makkah selama 2 tahun.

Ibnu Battuta meneruskan pengembaraannya ke Yaman melalui jalan laut dan melawat Aden, Mombosa, Timur Afrika dan menuju ke Kulwa. Beliau kembali ke Oman dan balik semula ke Mekkah untuk menunaikan Haji pada tahun 1332 masihi, melaui Hormuz, Siraf, Bahrin dan Yamama.

Pada pusingan kedua pengembaraanya, Ibnu Battuta ke Syam dan Laut Hitam, Laut yang dihubungkan ke Laut Tengah oleh Selat Bosporus dan Laut Marmara serta Dardanela. Dari Laut Hitam, Ibnu Battuta meneruskan pengembaraannya ke Bulgaria, Rom, Rusia, Turki serta pelabuhan terpenting di Laut Hitam iaitu Odesia kemudian menyusuri sepanjang Sungai Danube.

Ibnu Battuta kemudian belayar menyeberangi Laut Hitam ke Semenanjung Crimea di mana beliau mengunjungi Rusia Selatan dan seterusnya ke India. Di India beliau pernah dilantik menjadi kadi dan tinggal selama beberapa tahun dan berkhidmat dengan keluarga seorang sultan. Beliau melanjutkan pengembaraannya hingga ke Sri Langka, Indonesia dan Canton, ibu negara Hong Kong. Kemudian Ibnu Battuta mengembara pula ke Sumatera, Indonesia dan melanjutkan perjalanan melalui laut Amman sebelum meneruskan perjalanan darat ke Iran, Iraq, Palestin dan Mesir. Beliau kembali ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji yang ke tujuh (terakhir) pada bulan November 1348 mesihi.

Perjalanan beliau ketiga bermula pada 753 Hijrah dimana beliau sampai ke Mali di tengah Afrika Barat sebelum kembali semula ke Pas, Maghribi untuk mentafsir hasil pengembaraannya. Salah seorang penulis Dar Ifta' di Pas iaitu Mohad. Ibnu Juza telah menyunting buku beliau dan menyusun dengan gaya bahasa yang teratur. Ibn Juza mengambil masa selama 3 bulan untuk menyelesaikan tugasnya pada 9 Disember 1355 masihi.

Setiap kali mengunjungi sesebuah negeri atau negara, Ibnu Battuta akan membuat catatan terperinci mengenai penduduk, pemerintah, ulamak serta kezaliman yang dilaksanakannya. Beliau turut menceritakan pengalamannya menempuh pelbagai cabaran seperti diserang penjahat, hampir lemas bersama kapal yang karam dan nyaris dihukum penggal oleh pemerintah yang zalim. Tetapi malangnya, pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu tidak mendapat penghargaan sewajarnya apabila manuskrip catatannya dirampas dan di sembunyikan kerajaan Perancis yang menjajah kebanyakan negeri di benua Afrika.

Manuskrip catatan beliau dipercayai disimpan di Bibliotheque Nationale, Paris, menyebabkan bangsa Arab sendiri tidak dapat menghargai pencapaiannya sebagai seorang pelayar Islam yang agung. Hakikatnya, Ibnu Battuta adalah perintis pengembaraan dunia yang berjaya menguasai benua Afrika dan Asia serta pengarang yang menghasilkan karya penting dalam dunia Islam